Mahasiswa KKN-T IPB Bersama Penyuluh Pertanian Lakukan Taksasi Produksi Tanaman Padi Milik Petani Kampung Ciharashas Bogor Selatan

Mahasiswa
Taksasi produksi tanaman padi milik petani bersama penyuluh pertanian Kampung Ciharashas. (Istimewa)

Terkini.id, Bogor – Pengelolaan pertanian organik di Kampung Ciharashas terus mengalami perkembangan sejak diperolehnya sertifikasi sebagai Pertanian Organik tahun 2014 lalu. Perkembangan ini tidak lepas dari peran petani yang tekun dalam mengelola sawahnya dan tentunya dukungan dari berbagai pihak. 

Hasil produksi diawal pengelolaan pertanian organik terbilang rendah bahkan menurun drastis dibandingkan sebelumnya, yaitu pengelolaan pertanian secara kimia.

“Proses pengelolaan pertanian organik ini tidak instan, waktu awal panen sempat terjadi penurunan hasil produksi dibandingkan sebelum beralih ke organik karena proses penyesuaian dan efek pengelolaan organik tidak secepat kimia,” kata Aneng Ketua Kelompok Tani Dewasa Lemah Duhur seperti keterangan yang diteirma Bogor Terkini, Rabu 27 Juli 2022.

Namun sekarang, lanjut dia, Alhamdulillah sudah normal hasil dari produksinya berkat kegigihan petani mengolelola sawahnya dan dukungan berbagai pihak setempat.

Dukungan terhadap budidaya padi secara organik juga datang dari pihak pemerintah setempat, dimana dukungan tersebut berupa material seperti mesin pemotong tanaman padi (ngarit), seperangkat alat pengelolaan limbah kotoran sapi menjadi bio-gas, hingga pelatihan-pelatihan untuk petani ataupun kelompok tani dalam pengembangan pengelolaan budidaya tanaman padi secara organik.

“Ya, kita bekerjasama dengan petani untuk bisa meningkatkan dan mengembangkan pertanian organik di wilayah ini, khususnya bersama kelompok taninya, kita membantu dalam pembuatan pupuk organik, penerapan sistem tanam jajar legowo, edukasi penggunaan peralatan mesin, dan lain sebagainya,” ujar penyuluh pertanian Kampung Ciharashas, Imam Hanafi. 

Menurutnya, pertanian wilayah tersebut semakin baik, produksi juga semakin baik hasilnya, namun tetap perlu pendampingan dan evaluasi setiap panen. Teknik evaluasi dilakukan sekaligus guna memprediksi hasil dari tanaman padi yang biasanya petani tidak tlaten dalam menghitungnya. Padahal menurutnya ini penting, agar bisa diketahui berapa persentase penurunan atau peningkatan hasil panen dan diketahui penyebab serta tindakan lanjutannya.

Untuk mengetahui hal tersebut, digunakan sistem taksasi produksi tanaman padi (Survei Ubinan). Proses ini menggunakan seperangkat peralatan seperti besi ubinan, timbangan digital, dan smartphone yang terinstal aplikasi BPS – Survei Ubinan.

“Mula-mula, kita tentukan titik koordinat melalui aplikasi survey ubinan bps sebagai titik pengambilan sampel ubinan. Setelah itu, ambil sampel ubinan dengan membuat petakan lalu potong dan ambil rumpun padi sesuai petak. Kemudian, hitung jumlah rumpun padi dalam satu petak persegi yang telah dibuat. Berikutnya, rontokan gabah secara manual dan timbang. Hasil tersebut dibagi jumlah rumpun dalam satu petakan persegi, dan bisa jadi acuan prediksi hasil produksi,” jelas Rimba Basuki, mahasiswa KKN-T IPB.

Hasil prediksi dinyatakan bisa akan terjadi peningkatan produksi gabah, apalagi di musim kering tidak banyak hujan kata petani. (*)

Konten Bersponsor

Berita lainnya

Identik dengan Mistis, Ternyata begini Sejarah Keramat Talun Cirebon

Krisis Petani Muda di Desa Cikarawang dan Solusinya

Dunia Pendidikan Banyak Masalah

Kenali Ciri-Ciri Pinjaman Online Ilegal

400 Siswa di Bogor Timur Antusias Ikuti Campus Fair Sukamakmur 2022

Komentar

Laporkan Tulisan

Kami akan menggunakan masukan Anda untuk mempelajari ketika sesuatu tidak benar