Mahasiswa IPB Univeristy Kaji Digital Nomadic Tourism di Bali

Mahasiwa IPB Kaji Digital Nomadic Tourism
Mahasiswa IPB University mengkaji digital nomadic tourism di Bali.

Terkini.id, Bali – Lima mahasiswa IPB University melakukan riset Digital Nomadic Tourism di Provinsi Bali. Digital Nomadic Tourism ini disebut-sebut sebagai solusi pariwisata adaptif saat pandemi COVID-19.

Riset tersebut terfokus pada kalangan milenial dan Gen-Z. Riset ini merupakan bagian dari pelaksanaan Program Kreativitas Mahasiswa bidang Riset Sosial Humaniora (PKM-RSH) yang mendapat pendanaan dari Kementerian Pendidikan, Budaya, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek).

PKM-RSH ini diketuai oleh Inda Rohamatul Aini dengan anggota Arif Yoga Ali Fianda, Afifah Na Shalma PG, Ferdi Maulana, Komang Diah Cahya. Sementara Dr Meti Ekayani sebagai dosen pembimbing yang mendampingi mereka selama pelaksanaan PKM-RSH.

“Secara umum PKM ini membahas bagaimana Digital Nomadic Tourism ini menjadi jenis wisata yang cenderung aman di masa pandemi. Salah satu sifat Digital Nomadic Tourism ini cenderung menetap sehingga ini harapannya relatif lebih aman dalam mencegah penyebaran pandemi,” kata Ketua PKM-RSH Digital Nomadic Tourism, Inda Rohmatul Aini seperti dilansir dari laman IPB, Sabtu 4 September 2021.

Lebih lanjut Inda mengatakan, adanya Digital Nomadic Tourism di Bali harapannya mampu meningkatkan kondisi ekonomi pariwisata di sana. Seperti diketahui bahwa wisata di Bali termasuk yang terdampak karena pandemi COVID-19.
Salah satu anggota PKM-RSH Digital Nomadic Toruism, Arif Yoga Ali Fianda memaparkan bahwa tujuan dari riset tersebut adalah ingin mengetahui preferensi masyarakat di pulau Jawa terkait Digital Nomadic Tourism di Bali. Selain itu, mereka juga ingin melihat resiliensi budaya dan strategi alternatif yang dilakukan agar Indonesia menjadi lumbung Digital Nomadic Tourism di kemudian hari. 

“Tujuan lainnya tidak lain yakni ingin memperkenalkan lebih jauh Digital Nomadic Tourism ini, karena termasuk jenis pariwisata baru di Indonesia. Digital Nomadic Tourism ini bisa dibilang seperti work from Bali,” ungkap Arif.

Dari hasil riset, sebanyak 84,2 persen dari 101 responden generasi milenial dan gen-z berminat menjadi Digital Nomadic Tourism di Bali. Ini karena, meskipun pandemi COVID-19, protokol kesehatan tetap diterapkan dalam Digital Nomadic Tourism.

Sementara itu, menurut dosen pembimbing Dr Meti Ekayani, PKM-RSH Digital Nomadic Tourism berpotensi untuk menyumbang saran terkait bentuk wisata yang adaptif COVID-19. 
“Sertifikasi CHSE, travel bubble, sertifikat kesehatan, manajemen jumlah dan aktivitas kunjungan dan ketersediaan sarana prasarana work or study from Bali mestinya bisa menjembatani antara penyelenggaraan wisata dan pengamanan COVID-19. Konsep Digital Nomadic Tourism, di mana pengunjung menetap untuk beberapa hari untuk bekerja sambil berwisata, tidak hanya sekadar mampir berwisata,” tuturnya.

Dr Meti berharap, PKM ini setidaknya dapat menyajikan data persepsi dan preferensi wisatawan, pengelola wisata, masyarakat adat terhadap penyelenggaraan wisata ini. 

Konten Bersponsor

Berita lainnya

Forum Pelajar Sadar Hukum dan HAM Kabupaten Bekasi Resmi Dikukuhkan Bupati

Bantah Kegiatan FPSH HAM Hanya Seremonial Saja, Nandi: Mainnya Kurang Jauh

Sejumlah Pelajar di Kabupaten Purwakarta Dinobatkan Duta Hukum HAM oleh Bupati

Lagu Sayangi Ayah Bunda Ajarkan Anak Mencintai Orang Tua

Kolaborasi Mahasiswa Universitas Subang dengan Desa Simpar Beri Edukasi Terkait Covid-19 pada Masyarakat

Komentar

Laporkan Tulisan

Kami akan menggunakan masukan Anda untuk mempelajari ketika sesuatu tidak benar