BEM se-IPB Tolak Impor Beras, Ini 3 Tuntutan pada Pemerintah

IPB University. (Istimewa)
IPB University. (Istimewa)

Terkini.id, Bogor – Menanggapi rencana pemerintah yang yang akan melakukan rencana impor beras dalam rangka menjaga stabilitas pangan dalam negeri, Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) se- IPB menerbitkan penyataan sikap untuk membatalkan impor beras. Pernyataan sikap tersebut disampaikan melalui akun Instagram @bemkmipb pada Minggu, 21 Maret 2021.

Dalam pernyataan sikap juga, BEM se- IPB membeberkan mengapa kebijakan impor beras harus dibatalkan.

Presiden Mahasiswa (Presma) IPB Langit Biru memberikan penjelasan bahwa kebijakan impor beras yang diambil pemerintah saat ini tidak memiliki alasan yang jelas. Terlebih ketika Indonesia akan memasuki masa panen raya serta prediksi data dari Badan Pusat Statistika (BPS) yang menunjukkan bahwa produksi beras Indonesia sedang meningkat.

Selain itu, M. Fauzan Ramdani selaku Ketua BEM Fakultas Pertanian (Faperta) IPB menyayangkan kebijakan impor pemerintah karena menurutnya kebijakan tersebut akan berakibat pada kondisi ekonomi para petani kecil.

Menurutnya, di tengah panen raya pemerintah justru memutuskan untuk impor sebesar satu juta ton. Padahal menurut data BPS produksi beras pada tahun ini akan mengalami peningkatan sehingga para ahli pun menyayangkan kebijakan ini yang nanti akibatnya akan berdampak pada perekonomian utamanya para petani kecil.

“Lantas apakah kebijakan ini hanya sebatas kebutuhan atau dalih keterpaksaan?” tanya Fauzan.

Sementara itu, Ketua BEM Fakultas Ekologi Manusia (Fema) Lu’lu’ Firdausi Haqiqi meminta pemerintah pusat untuk membatalkan impor beras. Sebab, kebijakan tersebut tidak masuk akal di tengah produksi beras yang diprediksi bebas akan meningkat sebesar 26 persen pada kuartal 1 tahun 2021. Kaebijakan tersebut akan melukai hati para petani dan semakin menajuhkan petani dari kata kesejahteraan.

Tidak hanya dua ketua bem fakultas itu saja, tapi ketua BEM fakultas/sekolah lain maupun eksekutif ormawa PPKU pun turut menyuarakan hal senada. Mereka sama-sama menolak impor beras.

Dalam naskah kajian yang dirilis oleh BEM IPB, keputusan impor beras yang didapatkan dari Rapat Koordinasi Terbatas (Rakortas) merupakan langkah yang tidak tepat karena dapat berdampak pada harga pasar. Tertulis dalam kajian tersebut bahwa harga gabah dikabarkan anjlok karena wacana keputusan impor ini.

Selain wacana impor yang berdampak pada harga gabah di pasaran, Badan Pusat Statistika (BPS) memproyeksikan panen Januari-April 2021 mencapai 14,54 juta ton dari sebelumnya yang hanya 11,46 juta ton saja. Berdasarkan data tersebut, terlihat bahwa panen raya periode tersebut mengalami kenaikan sebesar 3,08 juta ton atau 26,84%. Lantas menjadi keheranan mengapa pemerintah memutuskan kebijakan impor di kala para petani sedang mengalami atau memasuki masa panen raya.

Keluarga Mahasiswa IPB (KM IPB) setidaknya memberikan tiga tuntutan pada pemerintah mengenai wacana impor beras, yang diantaranya adalah sebagai berikut.

  • Batalkan keputusan impor beras
  • Transparansi rencana alokasi impor beras
  • Peningkatan kualitas produksi pertanian yang berkelanjutan

Selengkapnya naskah kajian dapat diakses pada tautan ipb.link/kajianjagrikom

Konten Bersponsor

Berita lainnya

Polri Rencana Rekrut 56 Pegawai KPK yang Tak Lolos TWK, Rocky Gerung Beri Tanggapan Ini

50 Siswa SMA Puspa Bangsa Ikuti Gladi Asesmen Nasional Berbasis Komputer

Relawan Mahasiswa IPB Beri Kado Spesial untuk Petani di Hari Tani Nasional

Forum Pelajar Sadar Hukum dan HAM Kabupaten Bekasi Resmi Dikukuhkan Bupati

AMSI Sulawesi Selatan Adakan Training Literasi Berita, Berikan Insight Baru Bagi Peserta

Komentar

Laporkan Tulisan

Kami akan menggunakan masukan Anda untuk mempelajari ketika sesuatu tidak benar