Momentum Hari Tani Nasional di Tengah Pandemi Covid-19

Momentum Hari Tani Nasional di tengah pandemi Covid-19 oleh Irvan Didi Pramana.
Irvan Didi Pramana. (Terkini.id)

Terkini.id, Bogor – Tanggal 24 September setiap tahunnya diperingati sebagai Hari Tani Nasional (HTN). Sejarah Hari Tani Nasional bermula pada tahun 1960, yaitu saat disahkan Undang-undang Pokok Agraria (UUPA) yang mengatur tentang hak-hak dan kewajiban kaum tani, mengatur hak atas tanah, hak atas sumber-sumber agraria untuk dikelola dan dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk kemakmuran petani dan Bangsa.

Penetapan Hari Tani Nasional berdasarkan keputusan Presiden Soekarno tanggal 26 Agustus 1963 No 169/1963 menandakan pentingnya peran dan posisi petani sebagai entitas pembangunan Bangsa.

Berdasarkan perkembangan pertanian dalam konteks kekinian, masih terdapat permasalahan-permasalahan yang juga turut mempengaruhi nasib petani menjadi semakin tidak menentu. Sebut saja kebijakan kementrian pertanian terkait, yang ingin melindungi ekonomi di sector pertanian agar tidak melemah selama proses pengendalian penyebaran Covid 19 di Indonesia, antara lain:

  1. Melakukan refocusing kegiatan dan anggaran sebagai antisipasi dampak pandemi virus Covid-19
  2. Mempercepat program Padat Karya
  3. Menjaga ketersediaan bahan pangan pokok

Adapun langkah-langkah Strategis Kementerian Pertanian dalam rangka Pencegahan dan Perlindungan dari Dampak Penyebaran Virus Covid-19:

  1. Penyediaan bahan pangan pokok utamanya beras dan jagung bagi 267 juta masyarakat Indonesia.
  2. Percepatan ekspor komoditas strategis (sawit, kopi, lada, pala, jahe, kakao, sarang burung walet dan lainnya) dalam mendukung keberlanjutan ekonomi.
  3. Sosialisasi kepada petani dan petugas (PPL,POPT, dan lainnya). untuk melakukan pencegahan berkembangnya virus corona sebagaimana standar pemerintah maupun WHO.
  4. Pembuatan/pengembangan pasar tani di setiap Provinsi, optimalisasi pangan lokal, koordinasi infrastruktur logistik dan e-marketing.
  5. Program/kegiatan padat karya agar sasaran pembangunan pertanian dicapai dan masyarakat langsung menerima dana tunai.

Dilansir dari Badan Pusat Statistik (BPS), PDB sektor pertanian menjadi penyumbang tertinggi terhadap pertumbuhan ekonomi nasional selama pandemi covid 19, pada triwulan II 2020 yang mengalami penurunan sebesar -4,19% (Q to Q) dan secara year on year (yoy) turun -5,32%. PDB pertanian tumbuh 16,24% pada triwulan-II 2020 (q to q) dan bahkan secara yoy, sektor pertanian tetap berkontribusi positif yakni tumbuh 2,19%. Pertumbuhan PDB sektor pertanian bisa mencapai 2,19% yoy pada kuartal II/2020 tersebut karena ditopang subsektor tanaman pangan yang tumbuh paling tinggi yakni sebesar 9,23%.

Kementerian Pertanian terus gencar memberikan bantuan dan pendampingan sehingga aktivitas pertanian terus memberikan kontribusi terhadap ekonomi nasional karena produksi pangan tidak ada masalah. Peningkatan produksi terus dilakukan selain untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri, juga guna mengurangi impor atau meningkatkan volume ekspor. Kementan juga mengatakan bahwa dalam peningkatan produksi, Kementan melakukan beberapa upaya salah satunya dengan mendorong para petani untuk menggunakan fasilitas kredit usaha rakyat (KUR), pengembangan pertanian berbasis korporasi dan klaster serta pemberian bantuan langsung tunai (BLT) dan sarana produksi kepada petani kecil.

Namun, fakta lapangan nya masih terdapat permasalahan-permasalahan yang juga turut mempengaruhi nasib petani, Ketua Umum Serikat Petani Indonesia (SPI) Henry Saragih menilai kebijakan pemerintah dalam penanganan Covid-19 khususnya di sektor pertanian belum cukup mumpuni untuk mengatasi masalah-masalah yang dihadapi petani Indonesia saat ini. Henry mengatakan, bantuan Kredit Usaha Rakyat (KUR) yang belum lama ini diluncurkan memang perlu. Namun, ini tidak menjawab masalah-masalah lain yang dihadapi petani, seperti sulitnya distribusi atau memasarkan hasil-hasil pertanian dan anjloknya harga jual dari petani untuk beberapa jenis tanaman.

Semoga di momentum Hari Tani Nasional ini kementrian pertanian semakin serius dalam meningkatkan kinerjanya untuk menangani permasalahan-permasalahan Pertanian selama covid 19, Agar kemakmuran Petani dan Bangsa serta cita-cita Presiden Soekarno yang tertuang pada UUPA 1960 dapat terwujud dan dirasakan oleh semua petani Indonesia tanpa terkecuali. (Irvan Didi Pramana, Mahasiswa Agribisnis IPB ‘55)

Konten Bersponsor

Berita lainnya

Dunia Pendidikan Banyak Masalah

Kenali Ciri-Ciri Pinjaman Online Ilegal

400 Siswa di Bogor Timur Antusias Ikuti Campus Fair Sukamakmur 2022

Mahasiswa IPB University Gelar Aksi Sobi Back to School

Bogor Catat Rekor Nihil Kasus Covid-19

Komentar

Laporkan Tulisan

Kami akan menggunakan masukan Anda untuk mempelajari ketika sesuatu tidak benar